Kelompok suporter Manchester United Muslim Supporters Club (MUMSC) menuntut agar Sir Jim Ratcliffe mundur dari posisinya sebagai salah satu pemilik Manchester United. Seruan itu muncul setelah pria berstatus miliarder tersebut kembali melontarkan pernyataan yang menyoroti tingkat imigrasi di Inggris dan menilai negaranya sedang “dalam kemunduran”. Lewat pernyataan resmi yang dirilis pada Sabtu, kelompok itu menegaskan bahwa mereka telah kehilangan kepercayaan terhadap struktur kepemilikan klub saat ini.
Pernyataan tersebut bukan reaksi spontan. MUMSC sebelumnya juga mengecam komentar serupa dari Ratcliffe dan berharap ada pelajaran yang diambil dari polemik itu. Sikap mereka kini mengeras karena Ratcliffe, dalam wawancara dengan BBC pada Sabtu, kembali mengangkat isu imigrasi dan penerima bantuan sosial sebagai inti penjelasan atas persoalan yang dihadapi Inggris.
Seruan Tidak Percaya pada Pemilik Klub
Dalam pernyataannya, MUMSC menyatakan tidak lagi memiliki kepercayaan terhadap susunan kepemilikan Manchester United Football Club. Mereka menilai penurunan yang berlangsung bertahun-tahun, janji yang tak ditepati, serta kegagalan yang berulang telah menghabiskan kesabaran mereka. Kesimpulan itu disampaikan dengan kalimat tegas: “Enough is enough. It is time for change. The Glazers and Sir Jim Ratcliffe must go.”
Kalimat tersebut bukan hanya mengarah kepada Ratcliffe, tetapi juga menyeret nama keluarga Glazer sebagai pemegang saham mayoritas. MUMSC menuntut keduanya meninggalkan klub. Dengan begitu, seruan ini menjadi pernyataan tidak percaya yang menyasar keseluruhan struktur kepemilikan, bukan sekadar satu tokoh.
Kelompok itu juga mengingatkan bahwa Manchester United dibangun dari keberagaman. Mereka menyoroti bahwa para pemain, staf, petugas lapangan, tim keamanan, dan suporter klub berasal dari berbagai negara, budaya, etnis, agama, serta latar belakang. “Manchester United would not be Manchester United without them,” tulis mereka, seraya menegaskan bahwa keberagaman bukan kelemahan klub, melainkan bagian dari identitas Manchester United itu sendiri.
Komentar Ratcliffe dan Polemik Sebelumnya
Dalam wawancara bersama BBC, Ratcliffe menilai Inggris sedang mengalami kemunduran akibat kombinasi pajak tinggi dan imigrasi yang tinggi. Ia menempatkan isu imigrasi dan mereka yang menerima bantuan sebagai pusat penjelasan atas masalah-masalah yang dihadapi negeri itu. Argumennya, tidak ada pihak yang dianggap cukup “tegas” untuk menangani kedua hal tersebut.
Pernyataan itu bukan yang pertama. Sebelumnya, ia pernah menyebut Inggris telah “dijajah oleh imigran”, lalu meminta maaf karena telah “menyinggung sebagian orang” lewat pilihan bahasanya. Pada Februari, Manchester United merespons dengan menegaskan bahwa klub “membanggakan diri” sebagai organisasi yang inklusif.
Menurut pemberitaan BBC Sport yang mengutip sumber yang mengenal keluarga Glazer, pemegang saham mayoritas klub disebut “terkejut” oleh pernyataan awal Ratcliffe dan menilainya menunjukkan “sikap acuh terhadap kepemilikan mereka”. Konteks inilah yang membuat pernyataan terbaru MUMSC terasa sebagai kelanjutan dari ketegangan yang belum pernah benar-benar selesai.
Siapa Sir Jim Ratcliffe dan Jejaknya di Old Trafford
Ratcliffe adalah salah satu orang terkaya di Inggris sekaligus pendiri raksasa petrokimia Ineos. Ia pernah mengkampanyekan suara Leave dalam referendum Uni Eropa 2016 dan tercatat sebagai wajib pajak di Monako sejak 2020. Pada 2024, ia mengakuisisi 27,7 persen saham Manchester United.
Sejak masuk ke jajaran pemilik, ia melakukan restrukturisasi besar-besaran di klub. Langkah itu mencakup 450 pemutusan hubungan kerja, perombakan jajaran manajemen senior, dan pemecatan dua manajer. Bagi sebagian suporter, perubahan tersebut diharapkan membawa perbaikan; bagi MUMSC, hasilnya justru memunculkan kekecewaan baru.
Kritik yang Menjangkau Lebih dari Lapangan
MUMSC mengungkapkan bahwa banyak anggotanya semula berharap kedatangan Ratcliffe “akhirnya menandai perubahan yang berarti”. Harapan itu tumbuh setelah keluarga Glazer dinilai “memimpin penurunan Manchester United” selama bertahun-tahun. Namun, harapan tersebut tidak terwujud seperti yang mereka bayangkan.
Kelompok itu menyoroti sejumlah persoalan yang membuat mereka kecewa, antara lain:
- Harga tiket yang semakin mahal.
- Stadion yang dibiarkan menua tanpa perbaikan berarti.
- Tim sepak bola yang terus tertinggal dari posisi yang seharusnya diraih Manchester United.
Menurut MUMSC, kekhawatiran tersebut kini “melampaui persoalan di atas lapangan”. Artinya, kritik tidak lagi sekadar soal hasil pertandingan, tetapi menyangkut arah pengelolaan klub secara keseluruhan. Hal ini menjelaskan mengapa seruan perubahan diarahkan langsung kepada pemilik, bukan hanya kepada jajaran pelatih atau pemain.
Di sisi lain, situasi di lapangan memang sedang tidak bersahabat. Manchester United menutup akhir pekan di peringkat ke-13 Liga Primer setelah hanya mengumpulkan empat poin dari empat pertandingan pertama. Mereka juga tersingkir dari Piala Carabao pada Rabu usai kalah 3-2 di kandang dari Brighton. Kombinasi tekanan di dalam dan luar lapangan itulah yang membuat posisi pemilik klub semakin disorot.
Konteks Lebih Luas dan Kemungkinan Berikutnya
Kasus ini memperlihatkan bahwa isu kepemilikan klub sepak bola kini jarang berhenti pada urusan teknis. Pandangan pribadi seorang pemilik bisa dengan cepat berbenturan dengan nilai-nilai yang dijunjung suporter, terutama ketika klub memiliki basis penggemar yang sangat beragam. Di sejumlah klub besar Eropa, pernyataan di luar lapangan kerap berujung pada protes, boikot, hingga tuntutan perubahan struktur kepemilikan.
Bagi Manchester United, tekanan datang dari dua arah sekaligus. Di satu sisi, ada tuntutan agar pemilik lama, keluarga Glazer, melepas kendali atas klub. Di sisi lain, sosok yang diharapkan menjadi pembawa perubahan justru menuai penolakan dari sebagian pendukungnya sendiri. Situasi ini membuat pertanyaan tentang arah klub tidak lagi sebatas siapa yang memiliki saham, tetapi juga nilai dan identitas apa yang ingin dipertahankan.
MUMSC sendiri menegaskan bahwa keberagaman bukan beban, melainkan bagian dari kekuatan klub. Sikap itu menempatkan mereka bukan hanya sebagai kelompok suporter berbasis identitas, tetapi juga sebagai bagian dari pendukung yang menuntut akuntabilitas pengelola. Selama tuntutan tersebut belum dijawab dengan langkah nyata, isu ini kemungkinan akan terus bergulir.
Penutup
Seruan MUMSC menegaskan bahwa polemik seputar Sir Jim Ratcliffe belum berakhir. Pernyataan soal imigrasi yang ia sampaikan kepada BBC memicu kembali kritik yang sudah muncul pada Februari, dan kali ini berujung pada pernyataan tidak percaya terhadap struktur kepemilikan klub. Nama keluarga Glazer pun ikut masuk dalam tuntutan perubahan yang sama.
Yang paling jelas dari pernyataan itu adalah pesan bahwa bagi sebagian suporter, kepemilikan klub bukan sekadar soal investasi. Kepemilikan menyangkut cara sebuah klub memandang dirinya sendiri dan orang-orang yang menjadi bagian di dalamnya. Selama ketegangan antara pandangan pemilik dan nilai yang dipegang suporter belum mereda, tekanan terhadap pengelola Manchester United akan terus berlanjut.
